Kamis, 23 Desember 2010

KAOIN KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM

Banyak cara untuk Mempelajari sejarah tak terkeculi Sejarah Kesultanan Palembang Darussalam, Pengkajian bisa dilakukan dengan memakai berbagai sumber baik Sumber Tertulis, Benda maupun Lisan. hal ini telah digariskan dalam disiplin ilmu sejarah. Numismatik adalah salah satu ilmu Bantu Sejarah yang sering digunakan oleh para Sejarawan, kolektor, pemerhati dan peminat sejarah. Bahkan Sejak abad pertengahan, terutama di Eropa para kolektor mulai tertarik mengumpulkan aneka mata uang untuk dijadikan sebagai koleksi. Lama kelamaan timbul ketertarikan para ilmuwan/Sejarawan.

Istilah ini berasal dari bahasa yunani nomisma dan dari bahasa latin numisma, yang berarti koin atau mata uang. Kata nomisma itu berasal dari kata dasar nomos yang berarti jumlah atau hukum berat. Berawal dari pengertian numismatik tersebut kemudian orang sering mengartikan uang sebagai sesuatu yang bisa digunakan dan diterima secara umum sebagai alat tukar, pengukur nilai, standar jual beli, standar utang dan garansi menanggung utang (Sukanti, dkk. 2001: hal. 7).

Dengan adanya penyebaran Islam di Indonesia maka mempengaruhi budaya masyarakat setempat seperti terlihat dari berbagai macam peninggalannya berupa masjid, batu nisan, serta mata uang dan lain sebagainya. Khusus mengenai mata uang yang ada pada saat itu memiliki ciri-ciri yang menunjukkan pengaruh Islam berupa tulisan dan bahasa Arab yang terdapat pada mata uang tersebut, akan tetapi sangat disayangkan pada koin Kesultanan Palembang Darussalam (KPD) tidak ditemukan nama Sultan berkuasa / yang memerintah pada saat uang tersebut dicetak, melainkan hanya berisi tulisan Seperti berikut ini “Masruf Fi Balad Palembang”, dan “Al Syulthon fi Balad Palembang”, dan “Hadza Fulus Palembang”, serta “Khalifah fi Balad Palembang Darussalam”. dan “Alamat Sultan”.

Hal ini berbeda dengan uang/koin kuno di Kesultanan yang lain adakalanya dicantunmkan alamat Sultan, tahun memerintah, atau nama raja yang sedang memerintah sewaktu mata uang tersebut dikeluarkan, contohnya pada koin/mata uang Samudera Pasai yang menyebutkan nama Sultan Muhammad Malik az Zahir as sultan al-die (Sukanti, dkk. 2001: hal. 15). Dan Koin Jambi yang bertuliskan Sultan Ratu Pangeran Taha, dan koin Malaka yang tertulis Muzaffar Shah al Syulthon, dan disisi sebaliknya tertulis Nasir al Dunia Wa’l Din yang berarti Sukses dunia dan agama.
Pesebaran koin Palembang dan Koin Malaka ditemukan di antara kedua negeri. menurut Kenny Ong, Pemerhati koin nusantatara yang tinggal di Malaka, ini menunjukkan bahwa pada zaman itu telah terdapat hubungan dagang antara Palembang dengan Malaka (A. Khalik R. Muhibat, 2007: hal. 6).

Sebagian besar uang/koin KPD terbuat dari timah putih. Hal ini disebabkan karena bahan baku yang banyak ditemukan di Wilayah KPD adalah timah putih di Kepulauan Bangka Belitung. Koin yang terbuat dari timah lebih cepat rusak, mudah aus, dan mudah patah. Namun juga ditemukan koin yang terbuat dari bahan tembaga yang tertulis dalam Huruf arab melayu “Hadza Fulus Palembang Sanah 1198 H” (Inilah Uang Palembang tahun 1784 M). Koin KPD selain tidak mencantumkan nama Sultan, hanya dicetak pada satu sisi saja (dicetak hanya sebelah) pada sebaliknya dibiarkan kosong atau polos.

Dari hasil pengamatan penulis diketahui Koin tertua tercatat tahun 913 H / 1506 M dan Koin termuda tahun 1253 H / 1837 M. Banyak masyarakat Palembang khususnya, belum mengetahui mengenai koin yang dibuat pada zaman kesultanan Palembang Darussalam. Koin Palembang tertua diterbitkan pada tahun 913 H, koin berikutnya yaitu diterbitkan tahun 1023 H / 1663 masehi. Dengan koin ini menerangkan bahwa penguasa Palembang telah memakai gelar sultan, jauh sebelum sultan Abdulrahman, yang diyakini oleh ahli sejarah Palembang sebagai penguasa Palembang yang pertama memakai gelar Sultan (Lihat http://koinpalembang.blogspot.com).

Koin tertua KPD yang ditemukan berangka tahun 913 H./1506 M. Di koin tersebut tertulis “Al Syulthon fi Balad Palembang sanah 913 H”. ( Sultan di Negeri Palembang Tahun 913 H. atau 1506 M). ini menyatakan bahwa pada masa tersebut pengusa Palembang telah beragama Islam, meskipun tidak/belum secara terang-terangan (pemakaian gelar Sultan hanya sebatas di Mata Uang/koin) karena koin tersebut dicetak dengan menggunakan Huruf dan Bahasa Arab. Pada saat itu penyebaran agama Islam telah berkembang seiring dengan runtuhnya kekuasaan Kerajaan Majapahit di Indonesia, hal ini terbukti dengan adanya makam Ario Dilla/Ario Abdillah. Dilhat dari namanya telah bercirikan Islam. Kemudian ditemukan juga koin yang berangka tahun 1023 H / 1613 M. Di koin tersebut tertulis “Al Syulthon fi Balad Palembang sanah 1023 H”. ( Sultan di Negeri Palembang Tahun 1023 H. atau 1613 M). Koin ini dibuat Pada masa pemerintahan Pangeran Madi ing Angsoko yang memakai gelar Pangeran Ratu Sultan Jamaluddin Mangkurat II (PRSJM.II).

Kemudian pada tahun 1069-1118 H. / 1659-1706 M. Ki Mas Endi / Pangeran Ario Kesumo Abdurrahim memakai gelar Sultan Abdurrahman Kholifatul Mukminin Sayidul Imam. Selain memakai gelar Sultan Abdurrahman agama Islam dijadikan agama resmi kerajaan dengan mengganti Kerajaan Palembang menjadi Kesultanan Palembang Darussalam, pada masa pemeintahannya ditemukan 2 jenis Koin Palembang yang tertulis “Masruf Fi Balad Palembang Sanah 1091 H”. (Dicetak di Negeri Palembang tahun 1091 H atau 1677 M), dan “Al Syulthon fi Balad Palembang sanah 1113 H”. ( Sultan di Negeri Palembang Tahun 1113 H. atau 1699 M).

Pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (SMB.I) 1136-1171 H / 1724-1758 M. dicetak Koin KPD yang bertuliskan “Khalifah fi Balad Palembang Darussalam Sanah 1162 H”. (Pemimpin di Negeri Palembang Darussalam Tahun 1162 H atau 1748 M). Kemudian Koleksi koin KPD bertambah lagi ragamnya. Setelah ditemukan Koin yang dicetak pada tahun 1198 H. / 1784 M. yang bertuliskan “Hadza Fulus Palembang sanah 1198 H”. (Inilah Uang Palembang dibuat Tahun 1198 H atau 1784 M) koin dicetak pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Bahuaddin 1190-1218 H. / 1776-1803 M.

Sedikitnya, terdapat 20 corak/jenis koin zaman kesultanan Palembang Darussalam, dengan berbagai macam bentuk dan ukuran. Selain itu ditemukan juga peredaran mata uang/koin dari kesultanan Banten, Saik, Jvmbi, Deli, Malaka, Trengganu, serta VOC, dan Cina. Sebagian besar koin tersebut tidak mencantumkan nilai tukvr (nominalnya). Baru pada awal abad ke-19, setelah kekuasaan VOC dihapuskan, dikeluarkan mata uang/koin nederland Indie yang memuat nilai tukar /nominal.

Kalau misalkan koin tersebut tidak memiliki nilai nominal yang tercetak, lalu bagai mana kira kira sistem perdagangan dengan mata uang asing, misal antara Kesultanan Palembang Darusalam dengan tetangga semisal Banten, Malaka, Demak, atau bahkan dari tiongkok.
Apakah ada juga koin yang terbuat dari logam mulia semisal emas atau perak?

Pada fase awal sistem perbankan dunia mengenal sistem barter (tukat menukar barang), kemudian berubah dengan menggunakan  emas dan perak sbg alat tukar, Emas dan perak tsb dibuat kepingan-kepingan sehingga mulai dikenalan nama koin namun yg menjadi nilai nominalnya adalah tetap harga emas dan perak pada waktu itu. Kemudian sistem perbankan meluas dan diperbaharui dengan mencantumkan nilai tukar (nominalnya) dengan tujuan untuk mempermudah hitungannya.
Di KPD ketika memakai koin (mata uang) pada waktu itu disepakati  dengan sistem Kepeng (kepingan) misalkan beli beras sekarung dihargai 50 keping atau beli sayur 1 kepeng sehingga dipalembang populer dengan sebutan kepeng, karena bangka adalah penghasil timah maka sultan membuat koin dengan timah yang diebut oleh masyarakat cina disebut uang PITIS/PICIS.

1 komentar:

  1. maaf numpang lewat. mau dimaharkan barang kuno berupa cemeti naga yg bisa berdiri. harga 10 M. mksh

    BalasHapus